Orang-orang selalu menyebutku pecinta kopi, meski sebutan itu agak berlebihan menurutku. Hehehe…tapi baiklah, hal itu tidak jadi soal.
Karena setiap hari, paling tidak dua tiga gelas seduhan kopi hitam tanpa gula selalu menjadi teman setiaku. Terutama saat mengerjakan rutinitas harian kantor yang lama-lama memicu kejenuhan akut.
Seperti ketika sore hari, aku menyeduh kopi hitam jenis robusta gold, yang aromanya teramat kurang ajar bagi sebagian orang…hahahaha….
Kalau hal yang satu ini lebih disebabkan mereka hanya kebagian menikmati aromanya saja, tanpa gabung menikmati sajian kopi panas bersamaku. Sebab, aku hanya menyeduh satu gelas saja…wkwkwk…
”Siapa yang bikin kopi ini, pasti cuma satu gelas,” kata Pak Hendra rekan sekantor yang tiba-tiba masuk ruangan tempatku bekerja.
”Aromanya sampai ke luar ruangan ya..?,” tanyaku kepada Pak Hendra, yang langsung dijawab ”Iyaaaa…,” oleh Devi rekan kerjaku yang lain sambil tersenyum lebar, ketika ia tiba-tiba mendekat ke arah meja kerjaku.
Meski ada yang bilang, menyeduh kopi di sore hari bukan waktu yang tepat, tapi aku cuek saja. Bagiku, menikmati kopi tak ada urusan dengan kapan sebaiknya menikmati seduhan kopi.
Dan memang, beberapa tahun ini trend minum kopi menjadi sebuah budaya di kalangan anak-anak muda di Kota Gudeg. Meski mereka lebih menyukai kopi-kopi kekinian yang viral di medsos, seperti latte, cappuccino dan seduhan lainnya.
Yang pasti, mereka gemar menikmati sajian kopi dicampur susu dan bahan-bahan lainnya untuk menguatkan rasa yang ingin dihasilkan. Kalau aku ya tetap setia memilih kopi hitam, baik diseduh dengan metode tubruk, atau jika sesekali ke coffee shop selalu memesan americano.
Yups…semuanya kembali lagi ke masalah selera dan kebiasaan asupan yang diterima lidah. Karena lagi-lagi, semua akan ngopi pada waktunya, dengan bermacam rasa dan bermacam seduhan untuk memanjakan lidah dan perasaan…

Komentar
Posting Komentar