Orang-orang selalu menyebutku pecinta kopi, meski sebutan itu agak berlebihan menurutku. Hehehe…tapi baiklah, hal itu tidak jadi soal. Karena setiap hari, paling tidak dua tiga gelas seduhan kopi hitam tanpa gula selalu menjadi teman setiaku. Terutama saat mengerjakan rutinitas harian kantor yang lama-lama memicu kejenuhan akut. Seperti ketika sore hari, aku menyeduh kopi hitam jenis robusta gold, yang aromanya teramat kurang ajar bagi sebagian orang…hahahaha…. Kalau hal yang satu ini lebih disebabkan mereka hanya kebagian menikmati aromanya saja, tanpa gabung menikmati sajian kopi panas bersamaku. Sebab, aku hanya menyeduh satu gelas saja…wkwkwk… ”Siapa yang bikin kopi ini, pasti cuma satu gelas,” kata Pak Hendra rekan sekantor yang tiba-tiba masuk ruangan tempatku bekerja. ”Aromanya sampai ke luar ruangan ya..?,” tanyaku kepada Pak Hendra, yang langsung dijawab ”Iyaaaa…,” oleh Devi rekan kerjaku yang lain sambil tersenyum lebar, ketika ia tiba-tiba mendekat ke arah meja kerjaku. Mesk...
”Melodia!!!,” teriak seorang lelaki dari luar ruangan. Sesaat kemudian, ia masuk dengan langkah perlahan melewati sebuah pintu. Tangan kirinya, memegang dua lembar kertas putih bertuliskan larik-larik puisi. Sorot tajam matanya, menyapu seluruh ruangan. Di sekitarnya, tembok putih terpapar cahaya lampu kekuningan. Panel kayu coklat tua setinggi pinggang orang dewasa, menutup tembok bagian bawah hingga ke lantai. Puluhan penonton memenuhi deretan kursi, yang disusun meninggi ke belakang seperti di dalam ruangan bioskop. Sosok lelaki berkacamata bernama M.N Wibowo ini bagaikan magnet, membuat seluruh pasang mata tertuju padanya. Ia mengenakan jas hujan merah maroon panjang sampai ke mata kaki, sehingga mirip jubah. Kostum tersebut, dihiasi bercak-bercak cat putih yang tidak rata. Asesoris lain yang dipakainya, yaitu helm standar hitam dengan penutup muka transparan, juga berlumuran cat warna serupa. Bait demi bait puisi karya Umbu Landu Paranggi berjudul Melodia, di...